Jumat, 21 Desember 2012

Hidup Perlu Kalah

BERHENTI BERHARAP-SHEILA ON 7

Aku tak percaya lagi
Dengan apa yang kau beri
Aku terdampar disini
Tersudut menunggu mati
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Aku tak percaya lagi
Akan guna matahari
Yang dulu mampu terangi
Sudut gelap hati ini
Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampe nanti suatu saat
Tak ada cinta kudapat
Kenapa ada derita
Bila bahagia tercipta
Kenapa ada sang hitam
Bila putih menyenangkan
Reff :
Aku pulang….
Tanpa dendam….
Ku terima… kekalahanku…
Aku pulang…
Tanpa dendam…
Kusalut kan .. kemenanganmu…
Kau ajarkan aku bahagia
Kau ajarkan aku derita
Kau tunjukkan aku bahagia
Kau tunjukkan aku derita
Kau berikan aku bahagia
Kau berikan aku derita..

Aku pulang….
Tanpa dendam….
Ku terima… kekalahanku…

Rebahkan kalbumu
Lepaskan perlahan
Kau akan mengerti
Semua..

Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat
Tak ada cinta kudapat..

Tak ada yang pernah mau menyanyikan lagu ini sebagai ungkapan hatinya. Siapa yang mau menjadi yang terkalahkan? Tetapi, hidup memang persaingan. Bahkan seorang pemenang lahir dari kekalahannya. Entah, berapa kali aku kalah. Hingga aku lelah menangis karena kekalahanku.

Tapi, Hasil tidak akan membohongi Usaha dan Semua yang kau pinta pada Tuhanmu, pasti akan terkabulkan. Pasti, itu sudah pasti. Entah esok, lusa atau kapanpun.

Selasa, 18 Desember 2012

Aktivitas di 17

Be yourself! Jadi diri sendiri!

Sering banget aku denger kata itu. Apalagi tu kata gampang banget diucapin buat anak adam yang lagi mencari jati diri. Olala, jati diri itu apa pula? *Ehemm
Jadi gini, aku adalah anak remaja yang berumur Tujuh belas tahun. Yang kata orang sih, udah jadi gede sekarang. Usia yang emang berasa banget bedanya. Soalnya, aku udah bisa bikin KTP dan bikin SIM. *haha. Aku telah berpetualang dalam dua dunia. Dunia rahim selama 9 bulan dan dunia beneran selama 17 tahun+4bulan.

Tetapi, yang terjadi sekarang aku malah bertanya-tanya. Kenapa sih orang sering bilang tentang jati diri. Aku sampe sekarang bingung apa jati diriku. Karena aku nggak ngerti apa itu jati diri *kalo ada yang tahu, tolong kasih tahu ya ;).  Terus bagaimana dengan kalimat Jadi diri sendiri? Aku juga nggak tahu mau ku apakan kalimat itu. Gimana mau bisa nggunain kata Jadi Diri Sendiri kalo Jati Diri aja nggak ngerti.

Berharap aku bisa tahu apa arti kata JATI DIRI di  t u j u h b e l a s  ini.
Karena aku nggak tahu apa itu jati diri, aku jadi nggak tahu aku jadi diriku sendiri apa nggak. Yang aku tahu dan aku lakukan selama ini adalah M E N E R I M A dan M E R U B A H
Menerima dengan nyata siapa diriku. Menerima masa laluku yang mungkin selalu ingin kubuang. Menerima pilihan yang telah terlanjur kupilih-meski dulu aku memilih dengan gegabahnya. Menerima semua resiko akan pilihanku. Menerima segala hal yang telah menjadi takdirku.
Aku juga sedang berusaha untuk merubah diriku yang cengeng menjadi tegar. Merubah diriku dimasa lalu yang manja menjadi mandiri. Merubah egoisku yang tinggi menjadi empati. Merubah rasa benci menjadi cinta. Merubah gegabah menjadi hati-hati. Merubah aku yang lelet menjadi cekatan. Merubah segala hal menjadi lebih baik. Merubah agar diriku tak menjadi sampah, tetapi menjadi  orang yang bermanfaat.

Aku juga berusaha mendengarkan apa kata hati. Mendengarkan kata hati dengan jujur. Sering aku menyesal ketika tidak menuruti apa kata hati.
Aku juga belajar dalam visual. Belajar melihat lingkungan. Belajar membaca lingkungan. Belajar melihat dan membaca suatu hal yang invisible.
Karena dengan mendengar dan melihat, aku bisa mendapatkan Ilmunya (by: Mas Okta)
Jadi aktivitasku selama tujuh belas ini dan nanti adalah Menerima, Merubah, Mendengar dan Melihat.

Sabtu, 08 Desember 2012

Terus Tadi Siapa??

Mau cerita nih, hehe
Waktu aku kelas IX SMP, sekolahku dapet kesempatan buat ikut di acara Pompey Double Club Indonesia. Ini adalah Lomba Futsal untuk putra, Voli untuk putri dan LCC Bahasa Inggris Putra-Putri. Acara ini adalah hasil kerja sama antara British Council, ASA dan Muhammadiyah. Satu bulan sebelum lomba, kita berlatih didampingi oleh utusan dari pihak Pompey Double Club. Latihan tidak sekedar bermain sepak bola/voly, tetapi kita juga belajar bahasa Inggris.
Sebulan kemudian, kita berangkat ke Jakarta Selatan. Kalo nggak salah daerah Sawangan. Nama tempatnya, dirahasiakan saja. Yang pasti, kompleknya gede banget! Lomba dilaksanakan selama 3 hari. Hari pertama, pembukaan dan mulai lomba. Hari kedua, lomba juga. Hari ketiga, lomba juga *namanya juga lomba* sekaligus pengumuman pemenang..

Disini sebenernya yang mau aku ceritain. Malam kedua dari lomba, aku duduk di teras lantai atas, belakang kamarku. Curhat sama temenku sekamar sambil liatin bulan yang lagi purnama *so sweetkan. Kita ngobrol sampai larut malam. Karena terpesona sama bulan, kita rencana mau foto bulannya. Tapi nggak bisa, haha :D. Tengah berusaha motret, teman samping kamar keluar dan ikut nimbrung. Dia cerita kalo dibagian belakang kompleks ada danau gitu. Obrolan berlanjut hingga akhirnya kita ngobrol tentang mistis. Karena takut, kita bubar dan tidur *haha.

Karena penasaran tentang danau, aku ngajakin temen-temen buat kesana. Karena alasan capek, mereka bilang malas dan harus siap-siap untuk pulang. Tapi, aku nggak menyerah. Akhirnya ada dua adik kelasku yang mau menemaniku kesana. Mereka bilang sekalian hunting foto gitu, kan hari terakhir :D. Kita mulai perjalanan dari belakang kompleks. Iseng-iseng lewat lantai bawah biar cepet. Ternyata lumayan nyeremin, soalnya tu gedung nggak pernah dipake gitu. Untung ketemu bapak-bapak. Jadi kita dibantuin lewat belakang dan dibukain pintunya. Berlanjut di halaman belakang yang penuh rumput yang tak terawat dan kolam ikan tanpa ikan. kita berjalan sambil foto-foto. Terus kebelakang yang akhirnya kita ketemu satu gedung lagi. Padahal kupikir gedung tempatku menginap adalah gedung paling belakang, ternyata ada lagi. Itu gedung udah beneran nggak diurus. Gedung tinggi itu ada tanaman yang merambat didinding. Perdunya tumbuh nggak karuan. Tapi, masa bodoh. Kita malah tetep jalan. Iseng liat keatas gedung. Eh, ada cewek berdiri dipinggir jendela. Berambut hitam sebahu. Nggak jelas wajahnya, soalnya dia dilantai atas dan jendelanya ditutup.
Dia melambaikan tangan, sontak kita juga melambaikan tangan sambil senyum lebar. *nggak sadar* kita tetep lanjut jalan dan foto-foto di taman gedung itu. Danaunya, ada didepan taman gedung. Lanjut foto di danau. Sambil perjalanan pulang, kita meilih jalan memutar. Yang artinya, kita mengitari gedung itu. Iseng aku berpendapat, "Ini gedungnya sayang banget nggak dirawat. Padahal bagus lho sebenernya."
Ulfa, adik kelasku menimpali, "Iya, ya mbak. Tapi, inikan gedung pertemuan. Toh didepan masih banyak gedung buat penginapan. Kalo ada acara pasti pilih gedung depanlah mbak".
"O iyaya, berarti nggak pernah dipake dong", santai A'yun-adik kelasku satunya-menimpali.
"Lha, terus tadi mbak-mbaknya ngapain?" aku bertanya polos.
"Eh, iyaya mbak. Mana gedungnya kayak gini lagi. Mau ngapain disana? Kalo peserta nggak mungkin!"Ulfa mulai curiga.
"Tapi tu tadi berdua kok. Yang satu duduk dimeja. paling mau bersih-bersih gedung" A'yun berpendapat.
"Nggak, tadi cuma ada satu orang kok. Lagian kalo bersih-bersih ngapain cuma berdua, pasti rame. Terus kalo bersih-bersih pintu depan pasti dibuka, tapi tadi tertutup tuh" Ulfa menyanggah ucapan A'yun.
Aku mengangguk, menyetujui ucapan Ulfa. "Iya, cuma satu kok."
Bertiga kita diem, saling pandangan.
dengan polosnya A'yun tanya "Terus tadi siapa???" Bertiga diam sejenak. Lalu, lari kekamar.
Sorenya, kita pulang dan mampir di masjid Kubah Mas, Dian Al Mahri. Berlanjut pulang dan semua seperti biasa.
Sampai asrama, kita cerita sama temen-temen yang lain. A'yun cerita ke temen-temennya masalah kita ketemu 'Si mbak' itu. Nggak ada rasa takut, hanya cerita biasa. Kita sadar kalo itu hal aneh karena komentar salah satu pendengar cerita A'yun "Kayaknya itu emang bukan orang deh" #NAH LHO??!

Sabtu, 20 Oktober 2012

Tuhan Telah Menjagaku


          Untaian kalimat do’a terus mengalir dari bibir Insan yang sangat mulia. Do’a yang ditutup Al Fatihah, sekaligus menjadi sayap bagi do’a yang di panjatkannya di Sepertiga malam terakhir. Do’a yang ia kirimkan untuk dua anaknya yang berada di Jakarta dan Jogjakarta. Ia berusaha menjaga dua anaknya, dua insan yang pernah tinggal dirahimnya selama sembilan bulan. Ia menjaga anaknya melalui do’anya. Menitipkan kepada Rabbnya, agar sang anak dijaga seperti ia menjaga dua insan itu ketika di dalam kandungan. Sedang satu jiwa yang lain ada dalam lindungannya. Dekat dan slalu dijaganya.
          Tuhan selalu mengabulkan do’a hamba yang meminta kepada-Nya, itu janjinya. Maka, Tuhan telah mengabulkan do’a insan mulia itu. Berkali-kali aku berdiri di bibir jurang, tinggal satu langkah saja, aku akan terjatuh di jurang. Tetapi itu tidak terjadi. Selalu ada yang menyelamatkan dan mengingatkanku untuk berhati-hati. Bagaimanapun dan siapapun yang membuatku selamat dari jurang itu adalah kehendak Tuhan. Karena Tuhan  mengabulkan do’a hambanya yang mulia itu. Dan sesuai pinta hambanya, aku menjadi gadis yang terjaga. Tuhan telah menjagaku.

Nduk, Sayang

Tinggal diantara manusia-manusia seumuran hampir membuatku lupa wujud kasih sayang orang yang lebih tua. Hampir aku tak bisa merasakan wujud cinta yang selalu mereka berikan. Aku bahkan lupa bahwa wujud cinta itu bisa nampak dengan jelas dari panggilan seseorang. Karena aku hanya seumuran maka hanya nama akrab saja yang menunjukkan rasa kedekatan kita. Suatu sore, aku pulang dari Sragen. Itu adalah hari ahad, nggak ada jatah dari asrama. Aku memutuskan membeli Sate Ayam Bu Halimah. Mulailah ada percakapan antara aku dan ibu penjual sate menggunakan bahasa Jawa. Aku terus menjawab pertanyaannya. Selesai aku membayar dan ibu penjual sate memberikan sisa uangku, beliau berkata “Ati-ati ya nok”. Aku menoleh dan tersenyum. Lembut, halus sekali suara itu masuk kedalam telingaku. Membuat semua terasa tentram, tenang. Ini awal kalinya aku bisa merasakan lagi wujud cinta yang nyata itu di tanah Jogjakarta ini. Lain hari, aku pergi ke Dongkelan-ke rumah Pakdeku-. Disana aku bertemu Mbak Hesty dan dua putri cantiknya, Amelia dan Puan. Aku duduk di serambi rumah, bercerita apa saja. Tiba-tiba mbak Hesty menoleh dan berkata padaku, “Wes maem durung nok? Tak masake telur ya.” Sayang itu terasa lagi, jelas sekali. Sayang tulus dari seorang keluarga. Rasa peduli yang membuatku hanya menjawab dengan senyum. Aku kembali merasa tenang, merasa tentram. Waktu terus berlalu. Aku sudah mulai terbiasa lagi dengan wujud cinta itu. Tapi ini ada yang baru saja kualami kemarin. Ini waktu try out, Pak Dul-guru fisika-berkeliling memeriksa setiap lembar jawab siswanya. Aku lupa belum mengisi nomor ujianku. Pak Dul berkata dengan halus, “Diisi ndisik nduk nomere, mengko ndak lali.” Aku hanya mengiyakan sambikl tersenyum. Jelas, sayang itu kembali terasa. Sayang yang tulus. Tak banyak manusia yang menganggap panggilan nduk-dari kata Genduk- itu adalah bagian dari sekian kata yang diucapkan dari perasaan sayang. Di rumah, jelas semua orang yang lebih tua memanggil seperti itu. Membuatku percaya bahwa setiap orang yang ada dirumah ini mencintaiku. Tapi, diluar sana aku jarang menemukannya. Tiga cerita diatas adalah beberapa cerita tentang panggilan sayang itu. Aku selalu beranggapan bahwa kata nduk itu cukup mewakili kata sayang, dan aku suka dipanggil dengan kata itu.

Sabtu, 29 September 2012

Syair Sayyid Ahmad Hasyimi


Bersabar dan ikhlaslah dalam setiap langkah perbuatan
Terus-meneruslah berbuat baik, ketika di kampung dan di rantau
Jauhilah perbuatan buruk, dan ketahuilah pelakunya pasti diganjar, di dunia atau di akhirat
Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi dalam waktu yang mengalir
Sungguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impiankan tercapai
Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu
Sungguh kemulian itu ada dalam perantauan di usia muda
Singsingkan lengan baju dan bersungguh-sungguhlah menggapai impian
Karena kemuliaan tak akan bisa diraih dengan kemalasan
Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan
Karena debat kusir adalah pangkal keburukan

source: Ranah 3 Warna by A.Fuadi

Minggu, 02 September 2012

Untitled

Mungkin aku bukan manusia Super dengan segala keahliaanya, apalagi seorang Wonder Woman. Aku juga bukan seorang yang pintar dalam segala hal bidang pelajaran, apalagi yang punya segudang prestasi mengagumkan. Bukan pula pelajar yang sangat pandai dalam satu hal pelajaran hingga berpuluh-puluh kali mengikuti ajang Olimpiade dan lomba. Aku bukan siswa yang bisa membuat siswa lain berdecak kagum. Aku juga bukan manusia yang memiliki kemampuan berbicara di depan umum dengan sangat baik, apalagi seorang Orator.

Mungkin aku bukan gadis yang aktif di segala hal bidang kemanusiaan. Mengabdikan pada suatu organisasi, bahkan aku bukan anggota Dewa (Dewan Siswa). Aku juga bukan gadis yang sangat lihai memainkan suatu software. Bukan pula gadis yang sangat di elu-elukan ketika dia berbuat suatu hal. Bukan gadis yang menjadi atasan di sebuah Organisasi. Bukan gadis yang sangat dipercaya bisa memegang amanah, melainkan aku hanya pengganti.

Mungkin aku bukan perempuan yang pandai memasak. Mengatur keuangan dengan sempurnapun aku belum bisa. Aku bukan perempuan yang mempunyai tangan kreatif dengan hasil karyanya yang menakjubkan. Aku juga bukan penulis yang baik.

Mungkin aku memang satu-satunya yang 'kau' anggap tak punya apa-apa. Aku hanya menjadi tukang ribut dan teman yang bisa dijadikan pelampiasan. Aku juga bukan teman yang bisa memberikan Solusi jitu jika temanku ada yang meminta pendapat.

Aku memang bukan seperti teman-teman yang lain yang slalu kau Puja. Aku hanyalah 'Dia' yang kau pandang sebelah mata tetapi berusaha menemanimu saat orang yang 'kau puja' itu Pergi darimu.

Sabtu, 01 September 2012

Ini Aku


Aku adalah hamba Allah yang diciptakan lengkap dengan kekurangan dan kelebihan. Yang mengemban amanah menjadi Khalifah di muka bumi ini. Memikul beban status sebagai anak bungsu dari keluarga yang dikepalai oleh Bapak Saiful Munir. Mulai mengenal dunia pada hari Kamis, 18 Agustus 1995 setelah 9 bulan sebelumnya menumpang di rahim Ibu Siti Nur Puji Utami. Dengan syarat sebagai adik dari Kharisma Dyah Utami dan Fajar Misbahul Munir serta tinggal di Jl. Solo-Purwodadi Km.22.
Bertugas memperhatikan guru dan mengerjakan tugas di MAN Yogyakarta III sejak tahun 2010 hingga kini. Berutinitas duduk di bangku dan tertawa bersama manusia lain yang berlindung di bawah nama Kelas XI IPA 2. Bernaung dibawah atap Asrama Muntasyirul Ulum dan dipercayai dapat menjalankan tugas sebagai santriwati.
Sempat ditakdirkan memiliki getaran hati ketika melihat salah satu manusia lain yang bernama Laki-laki. Gadis yang menderita kelainan tidak suka sendiri dan kesepian, membuatnya selalu menjadi anak ribut dengan segala tingkah polahnya. Hatinya selalu tenang saat mengayuh sepeda dan melihat jalan. Menyentuh novel dan membacanya setiap kesempatan datang, membuatnya hobi meminjam novel. Mendengarkan musik dan telentang memandangi langit kamar adalah kebiasaanya ketika hari sudah sore dan melelahkan. Wajah klasik dan suara serak menjadi icon siapa Triana Nur Baity itu.

Kamis, 30 Agustus 2012

Saat Cinta Selalu Pulang


            Niki ikut tersenyum dan menyandarkan kepala di bahu Annalise ketika mereka berdua duduk sambil memandang foto-foto yang berhamburan di atas karpet. “Nata memang sejak kecil begitu.”
      Selamanya aku nggak akan bisa mengenal Nata seperti kamu mengenal dia, Niki.
      “Kenapa kamu nggak pernah cerita-cerita kalau kamu suka sama Nata? Seenggaknya kan aku bisa jadi mak comblang yang baik untuk kedua sahabtku.”
      Karena aku tahu perasaan Nata yang sesungguhnya.
      “Oh ya, terus tadi Nata bilang apa?”
      Dia nggak perlu bilang apa-apa. Aku tahu dia sayang kamu, dan hanya kamu.
      Annalise tidak bisa dengan jujur menjawab pertanyaan-pertanyaan Niki tersebut, karena dia mengerti ada beberapa hal yang harus Nata ucapkan sendiri pada Niki, dan dia tidak berhak menyampaikannya untuk Nata. Jadi, iapun berujar bijak, “Aku cukup senang kita bisa berteman. Begitu juga dengan Nata.”
      Tapi, aku iri Nik. Iri sekali sama kamu. Pikiran itu lepas tanpa bisa ditekan.
Itu adalah sepenggal cerita dari buku yang di Tulis oleh Winna Efendi denga judul Refrain Saat Cinta Selalu Pulang. Cerita di atas terletak di halam 188. Cuplikan di atas adalah cerita favoritku di buku tersebut.
Novel ini bercerita mengenai dua insan-Nata dan Niki-yang bersahabat sejak kecil. Lalu, disaat SMA, Nata mulai menyukai Niki, tetapi Niki bertemu dengan Oliver-yang akhirnya menjadi kekasih Niki. Sebelum Niki dan Oliver bertemu, Annalise-anak seorang model terkenal-pindah ke SMA mereka. Dan pada akhirnya, mereka bertiga bersahabat (Annalise, Nata dan Niki). Tanpa di sadari, Annalise menyukai Nata, sedangkan disisi lain Nata menyukai Niki.
Penggalan di atas merupakan sesi dimana Niki dan Nata mengetahui bahwa Annalise menyukai Nata. Novel Cinta dan Persahabatan yang apik. Buku ini diterbitkan oleh Gagas Media.
20  Mei 2012
Sepulang dari Masjid Syuhada

Sabtu, 16 Juni 2012

D I A_L O_G U E


 Kata-kata cinta itu memang mudah di ungkapkan
Mudah sekali
Yang sulit adalah mengatakan sejujurnya
Mengatakannya dari hati
Tapi, urusan ini tak sekedar mengatakan yang sejujurnya
Tak sekedar mengungkapkan perasaan
Tak sekedar menjawab ungkapan cinta
Urusan ini adalah urusan menjaga hati
Bukan menjaga hatimu
Bukan pula menjaga hatiku
Tapi menjaga hatinya
Hatinya, Dia

15:23 16/06/12
A.n Triana N Baity