"Jadi anak kok nggak tahu diri! Harusnya sadar dong, kemampuanmu itu dimana. Jangan cuma ngejar yang di pengeni, tapi juga nyadar mampu apa nggak."
DuuuAaarRrR!!
Aku cuma menelan ludah. Diam. Mendengar jawaban dari guruku yang ditujukan kepada temanku. Entah, sudah berapa kali aku mendengar kalimat itu. Bahkan kalimat itu menghantuiku *yang penting bukan hantu beneran! Aku cuma diem, nggak brani tanya apa-apa lagi tentang universitas apalagi jurusan sama sang Ibunda Guru.
Pesimis itu nggak boleh, aku tau. Tapi, aku udah terlanjur pesimis. BUT, tanggal 29 Januari 2013 Halida bilang sama aku;
"Kamu harus janji sama aku. Kamu nggak boleh pesimis. Kamu itu punya peluang yang besar untuk ketrima di PTN lewat jalur undangan. Terus aku? Emang dasarnya aku yang nggak tahu diri, ngambil jurusan yang banyak saingannya. Ya emang aku nggak tahu diri, tapi ini cita-citaku. Jadi, kalo kamu nyampe pesimis, Aku bakal Marah Banget sama kamu!"Glek! Aku nelen ludah. Ini janji, yang membutuhkan Bukti! Bukan cuma sensasi, tapi Prestasi! *uye, nyontek Qoute bu Guru.
Perkataan Halida berlanjut selang sehari kemudian, 30 januari 2013:
"Udah, pokoknya sekarang kita berevolusi. Nggak usah peduli orang mau bilang apa. Orang pada bilang nggak tahu diri ya biarin. Kali ini aja, kita jadi orang yang nggak tahu diri. Biarin, nggak papa jadi orang yang nggak tahu diri"
In The Name of Allah, The Lord of the word, The Master and The Creator of Everything:
Aku Berjanji,
akan menepati janji pada Halida, janji pada Orang tuaku!
Juga janji pada diri sendiri, janji yang kuselipkan dalam do'aku.
17:03 pm, 30 januari 2013
Halida, kita akan bersama lagi di Singapura!