Minggu, 06 Juli 2014

Astana Gede, My Trip and My Adventure


Rabu (18/06/2014) mahasiswa psikologi UMS melakukan kunjungan ke situs Astana Gede, Ciamis, Jawa Barat. Kunjungan ini merupakan fieldtrip yang diadakan oleh dosen bu Moordiningsih dalam mata kuliah Metode Penelitian. Kunjungan ini diketuai oleh saudara Patria Djati Kusuma. Astana Gede merupakan salah satu objek wisata yang berada di Kawali, merupakan situs peninggalan kerajaan  Galuh. Astana Gede Kawali di Ciamis merupakan tempat suci pada masa pemerintahan kerajaan sunda Galuh di Kawali.
Pada jaman dahulu, Astana Gede bernama Kabuyutan Sanghiang Lingga Hiang. Kata mbah kuncen di Astana Gede, “Lokasi peninggalan sejarah dan purbakala ini tepatnya berada disebelah utara dari ibu kota kabupaten Ciamis, letaknya berada dikaki gunung Sawal disebelah selatan sungai Cibulan, yang mengalir dari barat ke timur. Disebelah timur berupa parit kecil dari sungai Cimuntur yang mengalir dari sebelah utara ke selatan, sebelah utara sungai Cikadongdong dan sebelah barat sungai Cigarunggang”. Sang Juru Kunci adalah salah seorang keturunan adipati ketika kerajaan ini masih berdiri.
Astana Gede dulunya adalah letak dari kerajaan Galuh yang waktu itu sempat beribu kota di Kawali. Akan tetapi, bangunan dari kerajaan itu sendiri itu tak berbekas. Hal itu dikarenakan kerajaan-kerajaan Sunda dibangun dengan kayu.
“Itulah perbedaan antara kerajaan Jawa dan kerajaan Sunda. Di sisi lain, kita kan nggak boleh menggali tanah. Kalo kata orang dulu mah, pamali katanya. Makanya, ketika kerajaan dipindah ke Padjajaran, yasudah hilang semua. Nggak ada peninggalan selain prasasti-prasasti.” Ujar putra dari sang kuncen.
Disini terdapat beberapa prasasti peninggalan raja Niskala Wastukancana dan Dewa Niskala (putra dari Wastukancana) kurang lebihnya ada enam prasasti. Selain peninggalan Niskala Wastu Kancana, situs Kawali juga memiliki peninggalan berupa sebuah kolam kecil berukuran sekitar 10 meter persegi.  Kolam kecil ini sebetulnya merupakan sumber mata air yang bernama Cikawali. Konon dari nama kolam inilah nama daerah Kawali berasal.
Berdampingan dengan menhir ini terdapat lumpang batu berbentuk segitiga, yang didalamnya terdapat air. Batu inipun juga mempunyai sejarah yang unik, karena banyak orang datang untuk melihat batu yang berbentuk segitiga ini dan mencoba untuk bercermin pada batu tersebut.

 “Jika kita bercermin di air tersebut dan terdapat bayangan wajah kita disitu maka segala sesuatu yang kita inginkan akan terkabulkan. Tapi, bertahun-tahun saya jadi kuncen, belum ada yang berhasil. Ini menunjukkan bahwa manusia bercermin atau melihat diri sendiri itu memang lebih sulit daripada melihat orang lain.” begitu keterangan dari sang kuncen disitus Astana Gede.
Dan disamping batu berbentuk segitiga itu terdapat batu atau prasasti peninggalan lainya yaitu Batu Pangeunteungan. Jenis batu pada menhir ini konon hanya ditemukan di dua tempat saja di Jawa Barat, satu lainnya berada di Gunung Sembung, Cirebon dan yang satunya berda diastana gede kawali ini. Warga setempat menyebut menhir ini dengan nama Batu Pangeunteungan, kerena Pangeunteungan berartikan cermin. Dibawah batu inipun disemayamkannya abu jasad putri Dyah Pitaloka.
 
 “Prasasti pertama ini berisi bahwa Prabu Raja Wastu bertahta dikawali ini dan memperindah keraton Surawisesa, beliau juga membuat parit yang mensejahterakan rakyat. Disekeliling batu ini juga ditulis Jangan dimusnahkan, Jangan semena-mena, Ia dihormati ia tetap, Ia diinjak ia robohterang juru kunci Astana Gede.

“Tempat disemayamkannya abu jasad Prabu Linggabuana yang gugur pada Perang Bubat”, ujar mbah kuncen.

Di Astana Gede Kawali juga terdapat gambar dari telapak tangan yang disebut Batu Tapak, sebagaimana yang disampaikan oleh kuncen Astana Gede Kawali ini “gambar telapak ini dapat memprediksikan masa-masa yang akan datang dan tempat ini sebagai tempat untuk bersemedinya para dewa. Selain prasasti, di Astana Gede juga terdapat makam Pangeran Osman, salah seorang penyebar agama Islam di Ciamis pada masa kerajaan Sunda.(28/6)