Niki
ikut tersenyum dan menyandarkan kepala di bahu Annalise ketika mereka berdua
duduk sambil memandang foto-foto yang berhamburan di atas karpet. “Nata memang
sejak kecil begitu.”
Selamanya
aku nggak akan bisa mengenal Nata seperti kamu mengenal dia, Niki.
“Kenapa kamu nggak pernah cerita-cerita
kalau kamu suka sama Nata? Seenggaknya kan aku bisa jadi mak comblang yang baik
untuk kedua sahabtku.”
Karena
aku tahu perasaan Nata yang sesungguhnya.
“Oh ya, terus tadi Nata bilang apa?”
Dia
nggak perlu bilang apa-apa. Aku tahu dia sayang kamu, dan hanya kamu.
Annalise tidak bisa dengan jujur menjawab
pertanyaan-pertanyaan Niki tersebut, karena dia mengerti ada beberapa hal yang
harus Nata ucapkan sendiri pada Niki, dan dia tidak berhak menyampaikannya untuk
Nata. Jadi, iapun berujar bijak, “Aku cukup senang kita bisa berteman. Begitu
juga dengan Nata.”
Tapi,
aku iri Nik. Iri sekali sama kamu. Pikiran itu lepas tanpa bisa ditekan.
Itu adalah sepenggal cerita dari buku yang di Tulis oleh Winna
Efendi denga judul Refrain Saat Cinta Selalu Pulang.
Cerita di atas terletak di halam 188. Cuplikan di atas adalah cerita favoritku
di buku tersebut.
Novel ini bercerita mengenai dua insan-Nata dan Niki-yang bersahabat
sejak kecil. Lalu, disaat SMA, Nata mulai menyukai Niki, tetapi Niki bertemu
dengan Oliver-yang akhirnya menjadi kekasih Niki. Sebelum Niki dan Oliver
bertemu, Annalise-anak seorang model terkenal-pindah ke SMA mereka. Dan pada
akhirnya, mereka bertiga bersahabat (Annalise, Nata dan Niki). Tanpa di sadari,
Annalise menyukai Nata, sedangkan disisi lain Nata menyukai Niki.
Penggalan di atas merupakan sesi dimana Niki dan Nata mengetahui
bahwa Annalise menyukai Nata. Novel Cinta dan Persahabatan yang apik. Buku ini
diterbitkan oleh Gagas Media.
20 Mei
2012
Sepulang dari Masjid Syuhada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar