Kamis, 30 Agustus 2012

Saat Cinta Selalu Pulang


            Niki ikut tersenyum dan menyandarkan kepala di bahu Annalise ketika mereka berdua duduk sambil memandang foto-foto yang berhamburan di atas karpet. “Nata memang sejak kecil begitu.”
      Selamanya aku nggak akan bisa mengenal Nata seperti kamu mengenal dia, Niki.
      “Kenapa kamu nggak pernah cerita-cerita kalau kamu suka sama Nata? Seenggaknya kan aku bisa jadi mak comblang yang baik untuk kedua sahabtku.”
      Karena aku tahu perasaan Nata yang sesungguhnya.
      “Oh ya, terus tadi Nata bilang apa?”
      Dia nggak perlu bilang apa-apa. Aku tahu dia sayang kamu, dan hanya kamu.
      Annalise tidak bisa dengan jujur menjawab pertanyaan-pertanyaan Niki tersebut, karena dia mengerti ada beberapa hal yang harus Nata ucapkan sendiri pada Niki, dan dia tidak berhak menyampaikannya untuk Nata. Jadi, iapun berujar bijak, “Aku cukup senang kita bisa berteman. Begitu juga dengan Nata.”
      Tapi, aku iri Nik. Iri sekali sama kamu. Pikiran itu lepas tanpa bisa ditekan.
Itu adalah sepenggal cerita dari buku yang di Tulis oleh Winna Efendi denga judul Refrain Saat Cinta Selalu Pulang. Cerita di atas terletak di halam 188. Cuplikan di atas adalah cerita favoritku di buku tersebut.
Novel ini bercerita mengenai dua insan-Nata dan Niki-yang bersahabat sejak kecil. Lalu, disaat SMA, Nata mulai menyukai Niki, tetapi Niki bertemu dengan Oliver-yang akhirnya menjadi kekasih Niki. Sebelum Niki dan Oliver bertemu, Annalise-anak seorang model terkenal-pindah ke SMA mereka. Dan pada akhirnya, mereka bertiga bersahabat (Annalise, Nata dan Niki). Tanpa di sadari, Annalise menyukai Nata, sedangkan disisi lain Nata menyukai Niki.
Penggalan di atas merupakan sesi dimana Niki dan Nata mengetahui bahwa Annalise menyukai Nata. Novel Cinta dan Persahabatan yang apik. Buku ini diterbitkan oleh Gagas Media.
20  Mei 2012
Sepulang dari Masjid Syuhada