Sabtu, 20 Oktober 2012

Nduk, Sayang

Tinggal diantara manusia-manusia seumuran hampir membuatku lupa wujud kasih sayang orang yang lebih tua. Hampir aku tak bisa merasakan wujud cinta yang selalu mereka berikan. Aku bahkan lupa bahwa wujud cinta itu bisa nampak dengan jelas dari panggilan seseorang. Karena aku hanya seumuran maka hanya nama akrab saja yang menunjukkan rasa kedekatan kita. Suatu sore, aku pulang dari Sragen. Itu adalah hari ahad, nggak ada jatah dari asrama. Aku memutuskan membeli Sate Ayam Bu Halimah. Mulailah ada percakapan antara aku dan ibu penjual sate menggunakan bahasa Jawa. Aku terus menjawab pertanyaannya. Selesai aku membayar dan ibu penjual sate memberikan sisa uangku, beliau berkata “Ati-ati ya nok”. Aku menoleh dan tersenyum. Lembut, halus sekali suara itu masuk kedalam telingaku. Membuat semua terasa tentram, tenang. Ini awal kalinya aku bisa merasakan lagi wujud cinta yang nyata itu di tanah Jogjakarta ini. Lain hari, aku pergi ke Dongkelan-ke rumah Pakdeku-. Disana aku bertemu Mbak Hesty dan dua putri cantiknya, Amelia dan Puan. Aku duduk di serambi rumah, bercerita apa saja. Tiba-tiba mbak Hesty menoleh dan berkata padaku, “Wes maem durung nok? Tak masake telur ya.” Sayang itu terasa lagi, jelas sekali. Sayang tulus dari seorang keluarga. Rasa peduli yang membuatku hanya menjawab dengan senyum. Aku kembali merasa tenang, merasa tentram. Waktu terus berlalu. Aku sudah mulai terbiasa lagi dengan wujud cinta itu. Tapi ini ada yang baru saja kualami kemarin. Ini waktu try out, Pak Dul-guru fisika-berkeliling memeriksa setiap lembar jawab siswanya. Aku lupa belum mengisi nomor ujianku. Pak Dul berkata dengan halus, “Diisi ndisik nduk nomere, mengko ndak lali.” Aku hanya mengiyakan sambikl tersenyum. Jelas, sayang itu kembali terasa. Sayang yang tulus. Tak banyak manusia yang menganggap panggilan nduk-dari kata Genduk- itu adalah bagian dari sekian kata yang diucapkan dari perasaan sayang. Di rumah, jelas semua orang yang lebih tua memanggil seperti itu. Membuatku percaya bahwa setiap orang yang ada dirumah ini mencintaiku. Tapi, diluar sana aku jarang menemukannya. Tiga cerita diatas adalah beberapa cerita tentang panggilan sayang itu. Aku selalu beranggapan bahwa kata nduk itu cukup mewakili kata sayang, dan aku suka dipanggil dengan kata itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar